Skip to main content

Makalah Hubungan Vektor dengan Kesehatan


KATA PENGANTAR
Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga kita dapat menyelesaikan makalah ini tanpa kendala suatu apapun. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pemikirannya.
Kami berharap makalah ini dapat menambah wawasan serta pengetahuan bagi para pembaca. Materi yang kami sampaikan pada makalah ini sangat berguna bagi para pembaca yang ingin benar-benar memahami akan hubungan serangga/vektor penyakit dengan kesehatan.
Akhir kata kami mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang ikut berperan dalam menyelesaikan makalah ini. Kami menyadari bahwa makalah ini belum sempurna. Untuk itu kami mengharapkan saran dan kritik dari pembaca. Atas kritik dan saran yang diberikan, kami mengucapkan terima kasih. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.

Penyusun








DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................. i
DAFTAR ISI........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang............................................................................................. 1
B.     Tujuan.......................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A.    Lalat............................................................................................................. 3
B.     Kecoa........................................................................................................... 4
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan.................................................................................................. 7
B.     Saran............................................................................................................ 7
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 8








BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Di Indonesia kesehatan masyarakat merupakan masalah utama, hal inidikarenakan Indonesia merupakan negara tropik yang mempunyai kelembabandan suhu yang berpengaruh bagi penularan parasit. Oleh karena itu penyakit yangdisebabkan oleh parasit banyak dijumpai, penularannya dapat melalui kontaklangsung atau tidak langsung bisa melalui makanan, air, hewan vertebrata maupunvektor Arthropoda (Nur Rokhmah, 2016, hlm. 1)Vektor merupakan Arthropoda yang dapat menularkan, memindahkan ataumenjadi sumber penularan penyakit pada manusia. Vektor penyakit merupakanArthropoda yang berperan sebagai penular penyakit sehingga dikenal sebagaiArthropoda borne diseases atau sering juga disebut sebagai Vector borne diseasesyang merupakan penyakit yang penting dan sering kali bersifat endemis maupunepidemis dan menimbulkan bahaya bagi kesehatan sampai kematian. (PermenkesNo.347, 2010).
Vektor digolongkan menjadi 2 (dua) yaitu vektor mekanik dan biologic. Vektor mekanik yaitu hewan avertebrata yang menularkan penyakit tanpa agen tersebut mengalami perubahan, sedangkan dalam vektor biologik agen mengalami perkembangbiakan atau pertumbuhan dari satu tahap ke tahap yang lebih lanjut.
Pada penularan penyakit melalui vektor secara mekanik, maka agen dapat berasal dari tinja, urine maupun sputum penderita hanya melekat pada bagian tubuh vektor dan kemudian dapat dipindahkan pada makanan atau minuman pada waktu hinggap/menyerap makanan tersebut. Adapun pada penularan penyakit melalui vektor secara biologik, agen harus masuk ke dalam tubuh vektor melalui gigitan ataupun melalui keturunannya. Selama dalam tubuh vektor, agen berkembang biak atau hanya mengalami perubahan morfologis saja, sampai pada akhirnya menjadi bentuk yang infektif melalui gigitan, tinja atau cara lain untuk berpindah ke penjamu.

B. Tujuan
·         Untuk mengetahui hubungan serangga/vektor penyakit dengan kesehatan.







BAB II
PEMBAHASAN
A.Kecoa
Indonesia terdapat berbagai macam jenis vektor yaitu, nyamuk, lalat,kecoa dan sebagainya. Kecoa sangat dekat kehidupannya dengan manusia,menyukai bangunan yang hangat, lembab, dan yang banyak terdapat makanan.Kecoa merupakan serangga yang hidup di dalam rumah, gedung, kantor, rumahsakit, hotel, restoran, perpustakaan, di tempat sampah, saluran-saluran air kotor,dan umumnya kehidupan kecoa berkelompok, memiliki kemampuan terbang,menghindari cahaya, oleh karena itu pada siang hari kecoa bersembunyi di tempatgelap, dan aktif bergerak pada malam hari. Serangga kecoa sudah ada dipermukaan bumi sejak 300 juta tahun silam.Diperkirakan jumlah kecoa yang ada dipermukaan bumi saat ini mencapai 5.000species, termasuk diantaranya species kecoa raksasa yang ditemukan di hutan.
Belantara Kalimantan Timurtahun 2004. Jenis kecoa raksasa dikategorikan terbesar di dunia, memiliki ukuran tubuh mencapai 8-10 cm. Borror, et.al.1992 menyatakan bahwa ada beberapa species kecoa yang hidup dan sering ditemukan di permukiman adalah Periplaneta Americana (kecoaAmerika), Blattaria orientalis L, Blatella germanica, dan Suppella longipalpa.Kecoa dikatakan sebagai serangga pengganggu dan merupakan hama pemukiman karena habitat hidupnya ditempat yang kotor, dan dalam keadaan terganggu mengeluarkan cairan yang berbau tidak sedap. Kecoa mempunyai peranan yang cukup penting dalam penularan penyakit,diantarnya. Pertama, kecoa sebagai vektor mekanik bagi beberapa mikroorganisme pathogen yaitu dapat memindahkan Streptococcus, Salmonella,sehingga kecoa menjadi penyebab penyebaran penyakit disentri, diare, cholera,virus hepatitis A, dan polio, sebagai inang perantara bagi beberapa spesies cacing,menyebabkan timbulnya reaksi-reaksi alergi seperti dermatitis, gatal-gatal dan pembengkakan kelopak mata.
Pengendalian kecoa dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti secara sanitasi, biologis, mekanis atau kimiawi. Pada umumnya cara kimiawi lebih banyak dilakukan oleh masyarakat seperti penyemprotan atau pengasapan karena dinilai lebih praktis walaupun asap yang mengandung insektisida ini dapat menyebar keseluruh ruangan didalam rumah dan meracuni penghuni rumah,karena efek dari pengendapan nya yang berbekas diberbagai barang yang terdapat dirumah selain itu metode ini juga dapat meninggalkan residu yang berbahaya bagi manusia. Oleh karena itu perlu dicari pengendalian lain yang lebih aman terhadap lingkungan dan manusia. Salah satu solusinya adalah dengan PHT (Pengendalian hama terpadu). Pestisida nabati kembali memperoleh perhatian dari pakar danpraktisi termasuk di Indonesia setelah beberapa dekade teknik pengendalian hama tersebut nyaris dilupakan. Alam sebenarnya telah menyediakan bahan-bahan alami yang dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi serangan hama dan penyakit tanaman. Banyak jenis tanaman yang telah diteliti indikasi sifat insektisida, fungisidal dan sifat-sifat pengendalian hama lainnya, seperti kecubung, sirih dan mengkudu. Dilihat dari konsep dan prinsip PHT pestisida nabati mempunyai banyak keuntungan. Menurut Sudormo dibandingkan dengan pestisida sintetik,pestisida nabati mempunyai sifat yang lebih menguntungkan yaitu:
a.       Mengurangi resiko hama mengembangkan sifat resistensib.
b.      Tidak mempunyai dampak yang merugikan bagi musuh alami hama.
c.       Mengurangi resiko terjadinya ledakan hama keduad.
d.      Mengurangi bahaya bagi kesehatan manusia dan ternak.
e.       Tidak merusak lingkungan dan persediaan air tanah dan air permukaan.
f.       Mengurangi ketergantungan petani terhadap agrokimia.
g.      Biaya dapat lebih murah.


B. Tikus
Tikus adalah binatang yang termasuk dalam ordo rodentia, sub ordo Myormorpha, family muridae. Family muridae ini merupakan family yang dominan dari ordo rodentia karena mempunyai daya reproduksi yang tinggi, pemakan segala macam makanan (omnivorous) dan mudah beradaptasi dengan lingkungan yang diciptakan manusia. Jenis tikus yang sering ditemukan dihabitat rumah dan ladang adalah jenis rattus dan mus.
Adapun klasifikasi dari tikus adalah sebagai berikut :
Dunia              : Animalia
Filum               : Chordata
Sub Filum        : Vertebrata
Kelas               : Mammalia
Subklas            : Theria
Ordo                : Rodentia
Sub ordo         : Myomorpha
Famili              : Muridae
Sub family       : Muridae
Genus              : Rattus dan Mus
Species            : Rattus tanezumi


Jenis-jenis Tikus
1.      Tikus Rumah  (Rattus tanezumi)
Tikus ini mempunyai panjang ujung kepala sampai ujung ekor 220-370 mm, ekor 101-180 mm, kaki belakang 20-39 mm, ukuran telinga 13-23 mm, sedangkan rumus mamae 2+3=10. Warna rambut badan atas coklat tua dan rambut badan bawah (perut) coklat tua kelabu. Yang terrnasuk dalam jenis tikus rumah (rattus rattus) yaitu tikus atap (roof rat), tikus kapal (ship rat), dan black rat. Jika dilihat dari jarak kedekatan hubungan antara aktifitas tikus dengan manusia, tikus rumah merupakan jenis domestik, yaitu aktifitas dilakukan di dalam rumah manusia atau disebut juga tikus komensal (comensal rodent) atau synanthropic.
Tikus rurnah merupakan binatang arboreal dan pemanjat ulung . Kemampuan memanjat tembok kasar dan turun dengan kepala dibawab sangat lihai, dan hila jatuh dari ketinggian 5,5 meter tidak akan menirnbulkan luka yang berarti bagi tikus. Makanan yang dibutuhkan seekor tikus dalam sehari sebanyak 10- 15% dari berat badannya. Perilaku makan tikus dengan memegang makanan dengan kedua kaki depan, dan kebiasaan mencicipi makanan untuk menunggu reaksi makanan tersebut dalam perutnya. Hal ini perlu diperhatikan apabila kita memberantas tikus dengan racun. Tikus mempunyai kebiasaan mencari makan dua kali sehari yaitu pada 1-2 jam setelah matahari tenggelam dan pada l-2 jam sebelum fajar.
Umur tikus rumah rata-rata satu tahun dan mencapai dewasa siap kawin pada umur 2-3 bulan baik pada tikus jantan maupun betina. Masa bunting selama 21-23 hari dan seek or tikus betina dapat melahirkan 6-12 (rata-rata 8) ekor anak tikus. Setelah 24-48 jam melahirkan, tikus betina siap kawin lagi atau disebutpost partum oestrus.
Dalam tubuh tikus, terdapat beberapa hewan lain (parasit) yang ada di dalam tubuh (endoparasit) dan diluar/menempel di tubuh (ektoparasit) yang merupakan penular atau penyebab banyak sekali jenis penyakit. Endoparasit tikus antara lain cacing, virus, jamur, protozoa, bakteri, dan rickettsia yang mempunyai tempat hidup di bati dan ginjal tikus. Sedangkan ektoparasit tikus meliputi: pinjal (fleas) : Xenopsylla cheopsis, Stivalus cognatus; kutu (lice) : Polyp/ax spinulosa, Hoplopleura pasifica; larva tungau (chigger) ; tungau (mite);dan caplak(ticks).
2.       Tikus Got (Rattus norvegicus)
Tikus got ini mempunyai panjang ujung kepala sampai ekor 300-400 mm, panjang ekornya 170-230 mm, kaki belakang 42-47 mm, telinga 18-22 mm dan mempunyai rumus mamae 3+3=12. Warna rambut bagian atas coklat kelabu, rambut bagian perut kelabu. Tikus ini banyak dijumpai diseluruh air/roil/got di daerah kota dan pasar.
3.       Tikus Ladang (Rattus exulans)
Tikus ladang mempunyai panjang ujung kepala sampai ekor 139-365 mm, panjang ekor 108-147 mm, kaki belakang 24-35 mm dan ukuran telinga 11-28 mm dan mempunyai rumus mamae 2+2=8. Warna rambut badan atas coklat kelabu rambut bagian perut putih kelabu. Jenis tikus ini banyak terdapat di semak-semak dan kebun/ladang sayur-sayuran dan pinggiran hutan dan kadang-kadang masuk ke rumah.
4.       Tikus Sawah (Rattus Argentiveter)
Tikus sawah (Rattus rattus argentiventer) merupakan hama yang dapat menimbulkan kerugian bagi tanaman pertanian, yang dapat menyerang tanaman padi, jagung, kedelai, kacang tanah dan ubi-ubian.
Panjang tikus sawah dari ujung kepala sampai ujung ekor 270-370 mm, panjang ekor 130-192 mm, dan panjang kaki belakang 32-39 mm, telinga 18-21 mm sedangkan rumus mamae 3+3=12. Warna rambut badan atas coklat muda berbintik-bintik putih, rambut bagian perut putih atau coklat pucat. Tikus jenis ini banyak ditemukan di sawah dan padang alang-alang.
R. Rattus argentiventer (tikus sawah) adalah merupakan binatang pengerat. Tanda karakteristik binatang pengerat ditentukan dari giginya. Gigi seri berkembang sepasang dan membengkok, permukaan gigi seperti pahat. Selain itu terdapat diastema (bagian lebar tidak bergigi yang memisahkan gigi seri dengan geraham), serta tidak mempunyai taring. Gigi lainnya berada di bagian pipi terdiri dari 1 geraham awal (premolar) dan  3 geraham atau hanya 3 geraham (Anonim, 1989).
5.      Tikus Wirok (Bandicota indica)
Panjang dari tikus wirok ini dari ujung kepala sampai ekor 400-580 mm, panjang ekornya 160-315 mm, kaki belakang 47-53 mm, telinga 29-32 mm seangkan rumus mamae 3+3=12. Warna rambut badan atas dan rambut bagian perut coklat hitam, rambutnya agak jarang dan rambut di pangkal ekor kaku seperti ijuk, jenis tikus ini banyak dijumpai di daerah berawa, padang alang-alang dan kadang-kadang di kebun sekitar rumah.
6.       Mencit (Mus musculus)
Mencit adalah binatang asli Asia, India, dan Eropa Barat. Mencit (Mus musculus) adalah anggota Muridae (tikus-tikusan) yang berukuran kecil. Mencit mudah dijumpai di rumah-rumah dan dikenal sebagai hewan pengganggu karena kebiasaannya menggigiti mebel dan barang-barang kecil lainnya, serta bersarang di sudut-sudut lemari. Mencit percobaan (laboratorium) dikembangkan dari mencit, melalui proses seleksi. Sekarang mencit juga dikembangkan sebagai hewan peliharaan.
Tikus ini mempunyai panjang ujung kepala sampai ekor kurang dari 175 mm, ekor 81-108 mm, kaki belakang 12-18 mm, sedangkan telinga 8-12 mm, sedangkan rumus mamae 3+2=10. Warna rambut badan atas dan bawah coklat kelabu.

Penyakit yang Disebabkan Oleh Tikus
Tikus berperan sebagai tuan rumah perantara untuk beberpa jenis penyakit yang dikenal Rodent Borne Disease. Penyakit-penyakit yang tergolong Rodent Borne Disease adalah :
·         Pes atau sampar atau plague atau la peste merupakan penyakit zoonosis yang timbul pada hewan pengerat dan dapat ditularkan pada manusia. Penyakit tikus ini menular dan dapat mewabah. Gejalanya antara lain adalah demam tinggi tanpa sebab, timbulnya bubo pada femoral, inguinal dan ketiak juga sesak dan batuk.
·         Salmonellisis yang merupakan penyaklit yang disebabkan bakteri salmonella yang dapat menginfeksi hewan dan juga manusia. Tikus yang terinfeksi bakteri ini akan dapat menyebabkan kematian pada manusia dan salmonellisis dapat tersebar dengan melalui kontaminasi feses. Gejalanya antara lain adalah gastroenteritis, diare, mual, muntah dan juga demam yang diikuti oleh dehidrasi.
·         Leptospirosis merupakan infeksi akut disebabkan oleh bakteri leptospira yang menyerang mamalia. Ini dapat menyerang siapapun yang memiliki kontak dengan berbagai benda maupun hewan lain yang mengalami infeksi leptospirosis. Gejalanya antara lain adalah sakit kepala, bercak merah di kulit, gejala demam dan juga nyeri otot.
·         Murine typhus adalah penyakit yang disebabkan oleg Rickettsian typhi atau R. mooseri yang dapat dotuarkan melalui gigitan pinjal tikus. Gejalanya antara lain adalah kedinginan, sakit kepala, demam, prostration dan nyeri di seluruh tubuh. Ada juga bintil-bintil merah yang timbul di hari kelima hingga keenam.
·         Rabies merupakan penyakit yang menyerang sistem saraf pusat dan memiliki gejala khas yaitu penderita jadi takut terhadap air dan karena inilah rabies juga sering disebut hidrofobia. Tikus menyebarkan penyakit ini melalui gigitan. Gejala awal dari rabies tidaklah jelas, umumnya pasien merasa gelisah dan tidak nyaman. Gejala lanjut yang dapat diidentifikasi antara lain adalah rasa gatal di area sekitar luka, panas dan juga nyeri yang lalu bisa saja diikuti dengan sakit kepala, kesulitan menelan, demam dan juga kejang.
·         Rat-Bit Fever atau demam gigitan tikus disebabkan oleh gigitan tikus dan biasanya dialami anak-anak di bawah 12 tahun dan penyakit ini memiliki mas inkubasi selama 1 hingga 22 hari. Gejala yang ditimbulkan antara lain adalah sakit kepala, muntah, kedinginan dan demam. Bakteri di dalam gigitan tikus merupakan penyebab dari penyakit tikus ini.

Pengendalian Tikus
1.      Pengendalian Non Kimiawi
·         Sanitasi dan Higienis Lingkungan
Tikus akan berkembang biak dan hidup dengan baik pada situasi dimana mereka dengan mudah mendapatkan makanan, air, tempat berlindung dan tempat tinggal yang tidak terganggu. Beberapa hal yang dapt dilakukan untuk meminimalisasi gangguan tikus :
a.       Minimalisasi tempat bersarang/harborages antara lain eliminasi rumput/semak belukar.
b.      Meletakkan sampah dalam garbage/tempat sampah yang memiliki konstruksi yang rapat.
c.       Meniadakan sumber air yang dapat mengundang tikus, karena tikus membutuhkan minum setiap hari
2.      Pencegahan secara fisik dan mekanis
Secara fisik dilakukan dengan eksklusi atau struktur kedap tikus untuk mencegah tikus dapat masuk ke dalam bangunan antara lain dengan menutup semua akses keluar-masuk tikus (celah, lubang) pada bangunan, mengeliminasi sarang atau tempat persembunyian tikus serta memangkas ranting pohon yang menjulur kebagunan, tidak membuat taman terlalu dekat dengan struktur bangunan.
Secara mekanik dilakukan dengan membuat pelindung (Proofing) sehingga tikus tidak dapat masuk ke dalam rumah, ruangan dan tempat penyimpanan contohnya dengan memasang plat besi pada pohon. Pengendalian secara mekanis lainnya juga dapat dilakukan antara lain dengan menggunakan perangkap antara lain perangkap lem, perangkap jepit, perangkap massal dan perangkap elektrik. Perangkap merupakan cara yang paling disukai untuk membunuh atau menangkap tikus pada keadaan dimana tikus yang mati disembarang tempat sulit dijangkau dan dapat menimbulkan bau yang tidak sedap serta sulit.
Pengendalian Kimiawi
Pengendalian secara kimiawi dilakukan semata-mata atas pertimbangan bahwa pengendalian secara mekanis tidak memberikan hasil yang optimal atau tidak memberikan hasil yang sesuai dengan harapan pelanggan dan atau untuk aplikasi di luar bangunan. Pengendalian secara kimiawi tidak digunakan pada lokasi yang terdapat aktifitas pengolahan/produksi makanan / farmasi/ area sensitif lainnya. Penempatan racun pada industri makanan hanya dilakukan di luar ruangan yang tidak berhubungan dengan produksi dan dilakukan untuk jangka waktu terbatas dan dibawah pengawasan yang ketat. Pengendalian dengan cara
kimiawi dilakukan dengan menggunakan umpan yang mengandung rodentisida (racun tikus). Alat-alat untuk aplikasi rodentisida.
a.       Tamper Resistant
Merupakan tempat racun padat yang yang dapat melindungi dari pengaruh lingkungan.
·         Kotak umpan ber-kunci (Tamper Resistant) dipergunakan untuk pengumpanan di dalam ruangan umum dan ruangan terbuka.
·         Tempatkan sticker petunjuk dan kartu cek list di atas setiap Kotak umpan berkunci
·         Penempatan Tamper Resistant diletakkan jauh dari jangkauan anak-anak
·         Setiap tempat racun umpan harus diberi nomor seri/pengenal/No. penempatan untuk memudahkan monitoring dan pencatatan.
b.      Racun Minuman
Racun minuman merupakan pilihan terbaik dalam pengendalian tikus ,jika ketersediaan makanan di lokasi pemasangan banyak. Aplikasi racun minuman dapat dilakukan bersamaan dengan umpan racikan dengan hasil yang lebih baik. WARNING. Hati-hati dalam aplikasi racun minuman, karena sifat racun minuman yang mudah menguap sehingga dapat menyebabkan kontaminasi.






BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Adanya hubungan antara vektor penyakit dengan kesehatan karena vektor penyakit menyebabkan beberapa penyakit contohnya seperti lalat dan kecoa yang menyebarkan penyakit dengan cara mekanik.

B.     Saran
Sebaiknya kita mengendalikan vektor penyakit dengan beberapa pencegahan tanpa melakukan pemusnahan vektor karena jika vektor musnah akan terpengaruh pada rantai makanan.

Comments

Post a Comment